Keutamaan Beramal pada Hari-Hari Tasyrik

«

»

Oct 29 2012

Print this Post

Keutamaan Beramal pada Hari-Hari Tasyrik

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ibnu Abbas berkata, “‘Dan supaya mereka menyebut nama Allah pada hari-hari yang telah ditentukan (al-Hajj: 28),’ ialah sepuluh hari (yang pertama dalam bulan Dzulhijjah); dan ‘beberapa hari yang berbilang[1] (al-Baqarah: 203) ialah hari-hari tasyrik.”[2]
Ibnu Umar dan Abu Hurairah biasa pergi ke pasar pada sepuluh hari pertama Dzulhijjah sambil bertakbir, dan orang-orang yang di belakangnya turut bertakbir mengikuti takbirnya.[3]

Muhammad bin Ali bertakbir di belakang kafilah.[4]

518. Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi صلی الله عليه وسلم bersabda, “Tidak ada amalan pada hari-hari lain yang lebih utama daripada sepuluh hari ini?” Mereka menjawab, “Tidakkah jihad (lebih utama)?” Beliau bersabda, “Bukan pula jihad, kecuali orang yang keluar dengan mempertaruhkan jiwa dan hartanya, lalu ia tidak kembali dengan sesuatu pun.”

فَإِذَا قَضَيْتُم مَّنَاسِكَكُمْ فَاذْكُرُواْ اللّهَ كَذِكْرِكُمْ آبَاءكُمْ أَوْ أَشَدَّ ذِكْرًا فَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا وَمَا لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنْ خَلاَق

وِمِنْهُم مَّن يَقُولُ رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

 

Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah (dengan menyebut) Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu, atau (bahkan) berzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat. Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Robbana aatina fid dunya hasanah wa fil akhiroti hasanah wa qina ‘adzaban naar” [Ya Rabb kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka].” (QS. Al Baqarah: 200-201).

 

[1] Bunyi teks bacaannya ialah “Wayadzkurullaaha fii ayaamin ma’luumaat” atau “Wadzkurullaaha fii ayyaamin ma’duudaat”. Yang dimaksudkan oleh Ibnu Abbas bukan bacaannya, tetapi penafsiran kata “ma’duudaat” dan “ma’luumaat”.

[2] Di-maushul-kan oleh Abd bin Humaid dari Amr bin Dinar dari Ibnu Abbas.

[3] Al-Hafizh berkata, “Saya tidak mendapatinya secara maushul dari mereka.”

[4] Muhammad bin Ali adalah Abu Ja’far al-Baqir, dan di-maushul-kan oleh ad-Daruquthni darinya dalam al-Mu’talif.

Sumber:
Ringkasan Shahih Bukhari – M. Nashiruddin Al-Albani – Gema Insani Press (HaditsWeb)

Notice

Note: Artikel dari berbagai sumber, domain sumber terdapat pada tag.
Published by : blog.tohaboy.web.id


Permanent link to this article: http://blog.tohaboy.web.id/2012/keutamaan-beramal-pada-hari-hari-tasyrik.view