Ilmu dan Pengetahuan

«

»

May 03 2008

Print this Post

Ilmu dan Pengetahuan

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Ilmu bisa berarti proses memperoleh pengetahuan, atau pengetahuan terorganisasi yang diperoleh lewat proses tersebut. Proses keilmuan adalah cara memperoleh pengetahuan secara sistematis tentang suatu sistem. Perolehan sistematis ini umumnya berupa metode ilmiah, dan sistem tersebut umumnya adalah alam semesta. Dalam pengertian ini, ilmu sering disebut sebagai sains.

Pengetahuan adalah informasi atau maklumat yang diketahui atau disadari oleh seseorang. Pengetahuan termasuk, tetapi tidak dibatasi pada deskripsi, hipotesis, konsep, teori, prinsip dan prosedur yang secara Probabilitas Bayesian adalah benar atau berguna.
Sebelum kita lebih jauh mengenal teknologi, maka kita perlu mengetahui makna dari “ilmu pengetahuan”.1) Ilmu pengetahuan dapat didefinisikan sebagai segala “data” dan “informasi” yang diberikan atau disediakan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala kepada manusia, baik melalui ayat kauliyah-Nya (ayat-ayat Allah yang tertuang dalam kitab-Nya, Al Qur’an), dan ayat kauniyah-Nya (ayat-ayat Allah yang ada di sekitar kita, alam semesta, termasuk diri kita sendiri). Kemudian manusia melakukan penelitian terhadap kedua hal tersebut. 2)Ilmu Pengetahuan adalah suatu realitas atau kenyataan tertentu yang dipahami oleh akal atau logika manuasia secara metodis dan sistematis yang sangat membantu manusia dalam orientasi dirinya yang merupakan bagian dalam menerima adanya kenyataan tersebut.
Berbagai eksperimen, percobaan, dan sejenisnya dilakukan oleh manusia untuk mencari ilmu-ilmu yang disediakan Allah namun belum diketahui. Terkadang, usaha tersebut menghasilkan ilmu baru yang belum pernah ada sebelumnya, atau hanya sekedar menghasilkan pengalaman. Pengetahuan yang berdasarkan itu semua merupakan pengetahuan yang ilmiah. Bila seorang manusia dapat mengambil hikmah dari proses “eksperimen” dan analisa terhadap ilmu pengetahuan ini, maka itu disebut sebagai “knowledge”. Namun tidak sedikit dari manusia yang gagal meraih hikmah dari sekian banyak ilmu pengetahuan yang dianugerahkan oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala .
Sejak masa lalu, manusia senantiasa melalukan hal-hal tersebut, seperti eksperimen, penelitian, percobaan, menyimpulkan, dan seterusnya. Selama melakukan hal tersebut, ada yang jujur, ada pula yang tidak. Sudah banyak tokoh-tokoh yang bermunculan terkait dengan ini. Misalnya Al Khawarizmi dengan ilmunya yang hingga kini terkenal, yaitu Algoritma. Atau Ibnu Sina dengan ilmu kedokterannya, dan sebagainya. Ada juga contoh dari negeri lain, misalnya Isaac Newton yang namanya diabadikan untuk satuan berat/bobot (Newton), Archimedes, Galileo, dan lain sebagainya. Manakah yang jujur dan manakah yang tidak? Silakan Anda baca sendiri sejarah yang berhubungan dengan tokoh-tokoh tersebut. Namun harap berhati-hati, jangan salah baca buku sejarah, karena ada juga buku sejarah yang tidak jujur alias tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya terjadi.
Dari ilmu pengetahuan dan “knowledge” ini, manusia menghasilkan ilmu rekayasa (engineering, atau kejuruteraan, teknik) yang berkembang di berbagai bidang. Beberapa bidang yang berkembang dalam rekayasa ini antara lain bidang aerospace, agrikultur, komputer, kimia, industri, sipil, perangkat lunak, dll. Dengan ilmu pengetahuan dan rekayasa ini, lalu berkembanglah berbagai teknologi. Akhirnya, muncullah teknologi diberbagai bidang, antara lain teknologi pesawat terbang, teknologi nuklir, teknologi audio video, teknologi elektronik, dan sebagainya.
Teknologi adalah sebuah terminologi yang berasal dari Barat / Yunani, yaitu “technology”. Dia merupakan penerapan atau implementasi dari ilmu pengetahuan dan rekayasa untuk tujuan tertentu. Tujuan tertentu ini antara lain untuk pemecahan suatu masalah (problem solving), untuk menghasilkan suatu produk, dan sebagainya.
Namun seiring dengan awal perkembangan teknologi yang berasal dari Barat, maka seringkali teknologi dikaitkan dengan ide-ide “kebarat-baratan” atau “Western”, seperti Demokrasi, Freedom, Free market ekonomi, pergaulan bebas, dan sebagainya. Contohnya tidak perlu jauh-jauh, misalnya komputer atau internet. Kedua perkembangan teknologi ini seringkali ‘ditunggangi’ dengan ide kebarat-baratan tesebut.
Misalnya televisi, di mana televisi seringkali memuat pesan-pesan hegemoni Barat. Pesan-pesan hegemoni Barat tersebut dapat kita rasakan melalui tayangan-tanyangan film atau iklan. Film yang menyampaikan “pesan” hegemoni barat tidak melulu film Barat, tapi juga film produk dalam negeri yang muatannya bahkan lebih barat dari orang barat. Dan tidak sedikit dari film dalam negeri tersebut yang merupakan jiplakan total dari ide barat.
Dari sini, saya sebenarnya ingin mengatakan bahwa, kita kebanyakan sulit membedakan antara teknologi dan peradaban. Atau bisa jadi yang terjadi bukanlah sulit membedakan, tapi kita tidak sadar ketika menikmati teknologi itu sekaligus kita ju nikmati peradaban Barat. Padahal kita tahu, itu bukanlah identitas kita, itu bukanlah tuntunan bagi seorang muslim.
Teknologi dan peradaban seringkali dijadikan sebuah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Seakan-akan teknologi yang berasal dari Barat tidak bisa dipisahkan dengan peradaban Barat itu sendiri. Maksudnya, ketika kita menerima sebuah teknologi, seringkali kita merasa tidak bisa menerimanya tanpa menerima nilai-nilai peradaban barat di dalamnya. Padahal teknologi dan peradaban adalah dua hal yang terpisah. Kita perlu membedakan antara teknologi yang diciptakan oleh para ahlinya dengan peradaban barat itu sendiri.
Peradaban Barat berarti demokrasi, liberalisasi wanita, kebebasan tanpa batas, kapitalisme, kejahiliyahan, dan sebagainya. Semuanya itu adalah nilai-nilai, muatan, cara hidup, atau way of life yang dimiliki oleh peradaban Barat. Sedangkan Teknologi adalah satu hal yang lain lagi (sudah di bahas di atas).
Teknologi adalah suatu hal yang bebas nilai, dia hanyalah sebagai alat, sebagai media. Muatan atau nilai yang terkandung di dalamnya tergantung dari siapa yang ada di balik teknologi tersebut. Manakala teknologi dipegang oleh kebathilan, maka tidak heran jika sering menjadi suatu hal yang merusak dan menghancurkan. Bahkan bukan tidak mungkin, teknologi itu akan meruntuhkan peradaban barat itu sendiri, atau sebaliknya. Tapi manakala teknologi itu dikendalikan oleh al haq (kebenaran), maka insya Allah dia akan menjadi rahmat bagi seluruh semesta Alam. Di sini saya juga ingin mengatakan bahwa ukuran sebuah negara maju jangan semata-mata hanya dilihat dari perkembangan teknologinya. Selain dilihat dari perkembangan teknologi, juga harus dilihat dari nilai-nilai yang dimiliki oleh negara tersebut.
Dari uraian di atas, maka seharusnya kita juga sudah bisa menilai apakah saat ini kita sedang dalam proses modernisasi ataukah westernisasi.
Lalu, dari sini kita bisa runut beberapa bentuk sikap penerimaan ummat terhadap perkembangan teknologi. Ada beberapa sikap yang ditampakkan oleh ummat ketika menghadapi teknologi, yaitu:
1. Menerima secara totalitas (tanpa filterisasi)
2. Menerima dengan filterisasi
3. Menolak mentah-mentah
Dari ketiga sikap di atas, ada dua kutub ekstrim sikap penerimaan, yang satu menerima secara membabi buta (totalitas), dan yang satu lagi menolak mentah-mentah. Bagi yang menerimanya secara totalitas, maka dia berarti ju nerima nilai-nilai peradaban Barat. Sehingga tanpa sadar orang ini menjadi agen-agen penyebaran nilai-nilai Barat. Orang ini tidak bisa membedakan antara teknologi dengan nilai-nilai peradaban. Atau bisa jadi orang ini mengerti akan perbedaannya, namun dia menderita penyakit inferior atau minder, sehingga “rela” (jika tidak ingin dikatakan terpaksa) menerima nilai-nilai peradaban Barat dan turut menyebarkannya.
Sedangkan bagi yang menolaknya secara mentah-mentah, maka ini adalah model sikap yang tertutup. Mungkin orang ini memiliki idealitas, tapi sayangnya dia tidak mau menerima realitas. Padahal ilmu (hikmah) itu adalah hak setiap muslim, di mana saja ia menjumpainya, maka di sanalah dia berhak untuk mengambilnya. Dan Islam memberi kebebasan dan tidak mengekang akal dalam hal memikirkan fenomena alam, meningkatkan martabat ilmu dan ahlinya, serta ramah terhadap setiap orang yang mampu menyumbangkan kebaikan dan faedah.
Sehingga, sikap yang baik adalah dengan memilah-milah terlebih dahulu, manakah yang sesuai dengan nilai-nilai Islam dan mana yang tidak. Lalu apa barometer yang dapat kita gunakan dalam memilah-milahnya? Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil).” (QS. Al Baqarah: 185)
Maka, Al Qur’an lah sebagai filternya.

Notice

Note: Artikel dari berbagai sumber, domain sumber terdapat pada tag.
Published by : blog.tohaboy.web.id


Permanent link to this article: http://blog.tohaboy.web.id/2008/ilmu-dan-pengetahuan.view

  • http://orido.wordpress.com oRiDo

    dijaman sekarang ini ilmu pengetahuan dapat kita peroleh dari berbagai sumber dengan sangat2 bisa dibilang tanpa filter..
    yah… dengan menggunakan internet, kita bisa memperoleh informasi dengan bebas dan tanpa ada filter maupun batasan..
    oleh karena kita perlu membekali disi dan keluarga dengan ilmu2 yang dapat memagari diri agar tidak salah dalam melangkah..

    semoga kita semua selalu mendapat cahayaNYA sehingga tidak salah dalam melangkah..