Al-Hadist

«

»

Apr 26 2008

Print this Post

Al-Hadist

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Al-Hadist biasa juga dikenali sebagai al-Sunnah. Merupakan sebagai ucapan, perbuatan , pengakuan, akhlak dan sifat-sifat kejadian Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. yang diriwayatkan. Sumber yang terpenting selepas Al-Quran dalam pegangan dan kepercayaan Islam.Telah diterima sejak lebih seribu tahun yang lalu secara menyeluruh yaitu semenjak kewujudan Islam itu lagi.


BENTUK-BENTUK AL-HADIS & AL-SUNNAH

1. Ucapan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam.Mengandungi berbagai-bagai bentuk pengajaran dan nasihat. Contoh: “Sesungguhnya amalan itu dikira dengan niat dan sesungguhnya bagi tiap-tiap seseorang itu mengikut apa yang diniatkan.

2. Perbuatan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Megandungi jenis-jenis perbuatan/ amalan yang dapat dilihat pada solat, puasa dan lain-lain ibadat yang dilakukan oleh Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam sebagai menerangkan hukum dan diperhatikan oleh para sahabatnya.Contoh: solat.

3. Takrir
Mengandungi kebenaran Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dengan keadaan berdiam diri terhadap apa yang dibuat oleh sahabat dengan tidak mencegah atau menyalahkan serta tidak pula menunjuk keredhaannya.

PERBUATAN/AMALAN RASULULLAH SHALALLAHU ALAIHI WA SALLAM

Ahli usul Fiqh membahagikan kepada 4 bagian:

1. Perbuatan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam dan umatnya, seperti cara makan, minum, tidur dan sebagainya Hukumnya, harus melakukan atau meninggalkan.

2. Perbuatan yang diamalkan secara khusus bagi Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. seperti mewajibkan atas dirinya solat sunat dhuha, sunat tahajjud dan lain-lain. Hukumnya, amalan tersebut khas untuk Nabi sahaja, kecuali hal-hal yang ada nas yang melibatkan umatnya.

3. Perbuatan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam yang wajib diikuti oleh umatnya yang ditetapkan hukumnya berdasar nas-nas Al-Quran, seperti solat fardhu, puasa, zakat, haji dan lain-lain.

4. Perbuatan-perbuatan yang tidak jelas hukum sunat atau wajib bagi diri nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam atau sahabatnya.

PERBEDAAN DIANTARA AL-HADIS DENGAN AL-HADIS QUDSI.

Menurut ilmu Al-Hadis, terdapat dua bentuk al-Hadis yaitu;

1. Al-Hadis Al-Qudsi yaitu Al-Hadis yang bersandarkan kepada Allah swt

2. Al-Hadis yaitu Al-Hadis yang bersandarkan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. (Al-Hadis Al-Nabawi).

PEMBAHAGIAN AL-HADIS YANG DIRIWAYATKAN

Pada awal perkembangan Islam Al-Hadis telah diriwayatkan secara lisan/ingatan, dan selepas kira-kira 100 tahun kemudian ianya dikumpulkan dan dibukukan oleh para pengumpul Al-Hadis. Hasil daripada pengumpulan tersebut Al-Hadis terbahagi pula beberapa bahagian mengikut riwayat/periwayatnya:

[1.] Al-Hadis Mutawatir
Al-Hadis yang diketahui/diriwayatkan oleh beberapa bilangan orang yang sampai meyampai perkhabaran (Al-Hadis) itu, dan telah pasti dan yakin bahawa mereka yang sampai menyampai tersebut tidak bermuafakat berdusta tentangnya,

[2.] Al-Hadis Mar*****
Al-Hadis yang diriwayatkan bersandarkan kepada keinginan Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam sendiri, sama ada ucapan, perbuatan atau pun takrirnya.

[3.] Al-Hadis Mauquf
Merupakan kepatuhan atau perkataan sahabat sendiri yang diriwa-yatkan kepada kita, yaitu sebagai berikut :

[4.] Al-Hadis Mashyur
Al-Hadis utama yang diriwayatkan dari berbilang periwayat Al-Hadis.yaitu sekurang-kurangnya tiga sanad (jalan kepunca Al-Hadis) atau dari tiga periwayat Al-Hadis yang berbeza.

[5.] Al-Hadis Sahih
Al-Hadis yang berhubung/bersambungan sanad dari permulaan hingga akhir dan periwayat-periwayat tersebut bersifat berikut:
i. Adil
ii. Kuat Ingatannya.
iii. Bebas dari keganjilan dan
iv. Bebas dari Kecederaan yang memburukkan

[6.] Al-Hadis Muttasil
Al-Hadis yang berhubung/bersambung sanadnya dan setiap mereka yang meriwayatkannya mendengar terus dari orang yang meriwayatkan kepadanya sehingga sampai kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam atau kepada para sahabat.

[7.] Al-Hadis Mahfuz
Al-Hadis yang terpelihara, yaitu mereka yang meriwayatkan Al-Hadis tersebut, adalah mereka mempunyai kepercayaan yang tidak bertentangan kepercayaan dengan kepercayaan terhadap gulungan lainnya (tidak ada kepentingan peribadi).

[8.] Al-Hadis Mursal
Merupakan perkataan yang diucapkan oleh tabi’ie (mereka yang tidak pernah bertemu Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam) secara lansung atau terus kepada Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam dengan tidak melalui perantaraan sahabat.

[9.] Al-Hadis Jaiyid
Al-Hadis yang dikatakan baik dan Sahih oleh ahli atau para penyelidik Al-Hadis.

[10.] Al-Hadis Hasan
Al-Hadis yang berhubung/bersambungan sanad dari permulaan hingga akhir dan periwayat-periwayat tersebut bersifat seperti Al-Hadis Sahih, tetapi mereka tidak mempunyai ingatan yang kuat.

[11.] Al-Hadis Dho’if
Al-Hadis yang tidak diketahui periwayat atau pun periwayatnya tidak bersifat seperti periwayat Hadis Sahih atau Hasan.

[12.] Al-Hadis Mujawwad dan Tsabit
Merupakan nama lain bagi Al-Hadis Sahih dan Hasan.

[13.] Al-Hadis Maudhuk’
Al-Hadis yang diriwayatkan oleh mereka dengan mendustakannya dari Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam pada halnya nyata tidak. Juga dikenali sebagai Al-Hadis Palsu.(Diriwayatkan berdasar kepentingan orang-orang dan lembaga-lembaga tertentu).

ILMU HADIS

Hadis bagi umat Islam menempati urutan kedua sesudah AL-Quran karena berfungsi sebagai penjelasan dan penjabaran(bayan) ungkapan ayat-ayat Al-Quran yaitu; mujmal, muthlaq, amm dan sebagainya. Kebutuhan umat Islam terhadap Hadis sebagai sumber aplikasi ibadah, terpusat pada substansi yang tersusun secara verbal dalam komposisi teks Matan Hadis.

Ilmu Hadis tidak saja mempelajari Sanad Hadis, tapi juga mempelajari target akhir dari pengkajian hadis tersebut yaitu matan Hadis.

Umat Islam dalam membaca hadis, harus melengkapi dirinya dengan Ilmu Hadis yang diantaranya adalah ilm naqd al-hadits, atau lebih popular dengan nama Metodelogi Kritik Matan hadis.

Yang dimaksud matan adalah sabda Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam. setelah disebutkan sanadnya. Dalam ulum al-hadits terdapat tiga kemungkinan pembagian tentang matan. Pertama dari segi penyampainya, meliputi; al-hadits al-Qudsi, al-marfu’, al-mauquf, dan al-maqthu’. Kedua dari segi ilmu-ilmu yang menjelaskan pada matan, meliputi; garib al-hadits, asbab wurud al-hadits, nasikh al-hadits wa mansukhuh, mukhtalaf al-hadits, dan muhkam al-hadits. Terakhir yang ketiga, ilmu-ilmu yang berkembang dari aspek matan yang diriwayatkan dengan berbagai periwayatan dan hadits-hadits lainnya

Ilmu ini sangat diperlukan guna membedakan hadis yang kuat dengan hadis yang tidak kuat dari dari hadis yang telah dikumpulkan dan berjumlah puluhan ribu ayat tersebut.

Beberapa kitab hadis yang biasa dibaca oleh umat Islam :

1. Al-Shahifah Al-Shadziqah, yang ditulis langsung oleh sahabat ‘Abdullah bin Amir bin ‘Ash seorang sahabat yang, oleh Abu Hurairah, dinilai banyak mengetahui hadis dan sahabat yang mendapat izin langsung untuk menulis apa saja yang didengar dari Rasul, baik di saat Nabi ridha maupun marah.

2. Al-Shahifah Al-Shahihah (Shahifah Humam), yang berisikan hadis-hadis koleksi Abu Hurairah yang ditulis langsung oleh muridnya, Humam bin Munabbih.

3. Shafifah Jabir bin ‘Abdullah, yang berisi hadis-hadis tentang masalah-masalah ibadah haji dan khutbah Rasul yang disampaikan pada Haji Wada’, dan lain-lain.

4. Al-Jami’ as-Sahih (Sahih Bukhari), dikumpulkan oleh Imam Bukhari.

5. Shahih Muslim bi Syarhi An Nawawi.

7. Kitab Hadis Mutawatir, Kitab Hadis Marfu, Kitab Hadis Mauquf.

Selain itu dikenal pula beberapa penyusun hadist sebagai berikut :

1. Abu Daud, meninggal tahun 275 Hijriah atau 888 Masehi
2. Masa’i, meninggal tahun 303 Hijriah atau 915 Masehi
3. Tarmidzi, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi
4. Ibnu Majah, meninggal tahun 279 Hijriah atau 892 Masehi.

Notice

Note: Artikel dari berbagai sumber, domain sumber terdapat pada tag.
Published by : blog.tohaboy.web.id


Permanent link to this article: http://blog.tohaboy.web.id/2008/al-hadist.view